Mengamati Lukisan dan Menulis Puisi: Sebuah Workshop dari Creative Mornings
CREATIVE MORNINGS VIRTUAL FIELDTRIPS merupakan aktivitas kreatif daring (online) yang mulai saya kenal dan ikut berpartisipasi sebagai peserta sejak akhir Februari 2023. Dua tahun kemudian, sekarang, terhitung saya telah mengikuti 52 Virtual FieldTrips, yang sebagian besarnya terkait aktivitas menulis.
![]() |
Gambar: “Art Students” karya Louis Lang, sekitar 1871, Metropolitan Museum of Art (public domain) |
Termasuk salah satunya, yang hingga kini masih menjadi favorit saya, yaitu Virtual FieldTrip berupa lokakarya (workshop) di akhir Juni 2023 berjudul “Reverie: An Embodied Slow Looking and Poetry Experience”.
Dalam waktu sekitar satu setengah jam via pertemuan Zoom, peserta dari berbagai negara mengikuti dua jenis workshop yang dijadikan satu: mengamati lukisan dan menulis puisi.
Mengamati Lukisan dengan Slow Looking
Pertama, host Annie Yi dari National Gallery of Art menunjukkan kepada peserta sebuah lukisan tahun 2019 berjudul “A Sunburst Restrained” karya Maria Berrio, seorang seniman visual perempuan asal Kolombia yang bekerja di Brooklyn, New York. Lukisan ini dipilih untuk mewakili tema reverie (lamunan, angan-angan) dalam Virtual FieldTrip ini.
![]() |
Foto: Lukisan Maria Berrio, “A Sunburst Restrained” (2019) di National Gallery of Art, Washington, D.C., November 2023, via Instagram @katrinalee_84 |
Kami, para peserta Virtual FieldTrip, diminta untuk mengamati lukisan tersebut di atas. Kami juga diajak untuk membiarkan pengamatan kami mengembara secara bebas.
Dengan bantuan Annie, kami akhirnya menyadari bahwa ternyata Maria Berrio membuat “A Sunburst Restrained” menggunakan kertas khusus dari Jepang yang dijadikan collage. Collage itu juga dipadukan dengan kanvas yang dilukis memakai watercolor.
Saat foto lukisannya diperbesar, kami dapat melihat collage yang diwarnai dengan watercolor membentuk dua perempuan yang ada di dalam lukisan. Keduanya berbaring di alas pink dengan latar sejenis ubin. Di depan mereka tampak bagian dari pohon lemon yang terdiri atas ranting, daun, dan buahnya.
Annie kemudian mengungkapkan pula bagaimana Maria Berrio membuat lukisan tersebut karena terinspirasi oleh puisi “Ode to the Lemon” karya penyair terkenal asal Chile, Pablo Neruda.
Bagian akhir dari “Ode to the Lemon” merupakan bagian kesukaan kami — Annie dan para peserta, semata karena pilihan diksi yang terjalin indah dan tak terpikirkan oleh kami:
So, when you hold
the hemisphere
of a cut lemon
above your plate,
you spill
a universe of gold,
a
yellow goblet
of miracles,
a fragrant nipple
of the earth's breast,
a ray of light that was made fruit,
the minute fire of a planet.
Dipandu oleh Annie yang salah satu pekerjaannya di National Gallery of Art adalah memandu tur di sana, peserta Virtual FieldTrip diajak memahami makna di balik lukisan “A Sunburst Restrained”, termasuk benang merahnya dengan puisi “Ode to the Lemon”.
Meski sedikit banyaknya menyukai seni dalam beragam bentuknya, jujur saya merasa tidak mudah untuk memahami seni dan makna yang menyertainya. Namun, Annie mampu membuat proses memahami seni tersebut terasa menyenangkan.
Takeaway yang bisa saya tarik (dan catat) dari panduan Annie Yi untuk memahami karya seni, kurang lebihnya begini:
“As close as you want, you have the freedom to look at a piece of art, for each one of us has a different point of view and different definition on art.”
Menulis Puisi Berdasarkan Pengamatan Akan Karya Seni
Christine Bissonnette, yang seorang penyair sekaligus pengajar puisi, hadir dalam Virtual FieldTrip ini untuk membersamai kami di bagian akhir workshop untuk menulis puisi.
Sebelumnya, kami diminta untuk terlebih dahulu menulis bebas (free writing) dengan prompt tulisan terkait apa yang sudah kami dapatkan di sesi awal workshop ini.
Saya sudah tidak ingat lagi apa saja prompt tulisannya, akan tetapi saya masih menyimpan hasil free writing saya yang hanya terdiri dari tiga paragraf singkat ini — yang sepertinya berupa interpretasi pribadi saya terhadap lukisan “A Sunburst Restrained”:
These two women relax and enjoy themselves in their own garden. As summer is already welcomed, they can smell the shine of the sun, and they can even hear the summer wind approaching their garden, touching their precious bright lemon trees.
Isn’t summer just the best time to escape and to just breathe?
The heat of summer, somehow, makes those women — or us, for that matter — stronger. Heat, high temp, scorching wind. Simple things, yet those make you feel the strongest than in other seasons.
Setelah sesi free writing usai, barulah para peserta diberikan waktu sekitar 15 menit untuk menulis puisi sesuai imajinasi maupun pengamatan kami akan karya seni visual Maria Berrio dan puisi Pablo Neruda di awal.
Menulis bukan hal yang mudah, apalagi menulis puisi. Dan dalam waktu hanya 15 menit pula! Namun saya bangga karena berhasil menuliskan sebuah puisi sederhana berdasarkan pengamatan akan karya seni yang saya pelajari di dalam workshop ini.
APPRECIATING THE HUES
by Diar Adhihafsari
Today I found out
about a poem
by Pablo Neruda,
“Ode to a Lemon”
So simple
yet so orchestral
An ode, that is
And to a lemon
The yellow hues
for Neruda’s lemony poem
The hues
I get to appreciate now
To why he used the words
“A yellow goblet of miracles”
still amazes me
for my mind is blown
That hues are magical,
whatever the colors involved
That words are miraculous,
that an instant poem I could
write just now
Kesimpulan
Menikmati karya seni, atau bahkan membuat karya seni, bukan hanya untuk mereka yang ‘nyeni’ murni. Kita, yang ‘orang biasa’, juga sah-sah saja mengamati dan menginterpretasi karya seni dengan imajinasi dan sudut pandang kita sendiri.
Kita juga bahkan bisa menginterpretasikan cara kita memandang karya seni melalui karya seni lainnya gubahan kita sendiri, seperti yang saya lakukan lewat Virtual FieldTrip “Reverie” dari Creative Mornings yang saya ikuti.
Bagi yang tertarik juga mengikuti Virtual FieldTrips dari Creative Mornings, kamu bisa mendaftarkan diri di situs Creative Mornings dan mulai mencari judul-judul Virtual FieldTrips yang menarik bagimu.
Pilih satu (atau semua!) Virtual FieldTrip yang kamu mau, baik itu berupa webinar maupun workshop. Pastikan untuk cek waktu pelaksanaannya (karena FieldTrip dilangsungkan di waktu sesuai negara host-nya — seringnya Amerika Serikat — yang di Indonesia kadang tengah malam atau dini hari, walau banyak juga yang pagi atau malam hari) serta cek apa yang harus disiapkan (bila ada).
Selanjutnya, tinggal hadir sesuai waktu pelaksanaan via Zoom, dan selamat menikmati!
Komentar
Posting Komentar